1
99

Kisah di Perbatasan Indonesia (Natuna)

Hallo Sahabat King’S-Hidup mahasiswa, masih zaman-zaman aktifis waktu masih sok memikirkan rakyat, meskipun sebatas orasi dan demonstrasi. Inilah kisah di perbatasan

Perkenalkan gw Abdul, dulu pernah jadi mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di Bogor. Gw mau sharing pengalaman  aja. Pertengahan Juni 2013 sudah masuk smester empat, di mana rata-rata mahasiswa di kampus lagi sibuk persiapan KKP.

Kuliah Kerja profesi (KKP), kalau mahasiswa dulu sebutannya PKL alias Praktek Kerja Lapang, intinya sama cuma beda nama aja. menurut gw ini salah satu pengalaman yang paling berharga, makanya gw coba abadikan dalam tulisan ini barangkali menjadi inspirasi buat orang lain.

Napoleon

keluarga kisah

Keluarga napoleon

Kebanyakan orang pasti tidak asing dengan kata Napoleon, etsss  jangan salah nebak ya, yang gw maksud bukan pelaut Prancis yang terkenal. Kata Napoleon di ambil dari salah satu jenis ikan karang yang harga nya kalo lu denger bakal kaget, ntar gw bahas lebih lanjut ya.

Napoleon adalah sebutan kelompok gw yang terdiri dari 6 orang, direncanakan dalam waktu dekat akan berangkat ke pulau terpencil di laut perbatasan Indonesia dengan laut China Selatan. dari kelompok inilah sekelumit kisah pengabdian gw di mulai.

Nama Kelompok : Napoleon
Lokasi Tujuan: Pulau Panjang, Kec: Subi Kab. Natuna, Prov : Kep.Riau
Anggota :
1. Abdul
2. Ari
3. Hasan
4. Dida
5. Azizah
6. Nia

Note: kalau pengen tau dimana lokasinya searching aja ya.

First Flight 

Jangan ngetwain, emang pengalaman pertama mau di gimanain, biar inget aja makanya di tulis. Untuk ke lokasi KKP bisa ditempuh dengan perjalanan udara dan perjalanan laut. Baru di umur 22 tahun untuk pertma kalinya naik pesawat.

Deg degan ada, pengen ngerasain gimana rasanya terbang, takut juga iya. untuk sampe TKP, perjanan yang ditempuh mulai dari bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Supadio Pontianak, dan di lanjutkan dengan perjalanan laut.

Setibanya di kursi pesawat langsung degdegan, maklum dari kampung jadi agak norak sih. Beberapa detik setelah take off ketika pesawat mulai meninggalkan daratan, kuping terasa budeg dan dada sesek, efeek dari ketinggian kali ya, hal yang sama juga terasa pas pesawat landing.

Ngga penting sih gw cerita tentang naik pesawat, tapi namanya juga pengalaman. Lama perjalanan Soekarno Hatta ke pontianak, kurang lebih sekitar satu jam 30 menit. setibanya disana gw dan kelompok lain di jemput oleh pihak Lantamal XII Pontianak.

Kegiatan gw ini sebenarnya atas inisiasi semua pihak, terk husus pihak Kampus dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, jadi jangan heran kalau dapat privilege, contohnya dari TNI AL, sampai difasilitasi untuk menginap di mess.

Popeye si pelaut

berlayar dengan kisah

Sumber : pixabay

Perjalanan belom selesai, masih sekitar 20 jam lagi lewat jalur laut. Kali ini menggunakan Kapal Bukit Raya. jadwal keberangkatan sekitar jam 11.30 WIB dengan lama perjalanan empat belas jam perjalanan laut.

Fasilitas yang tersedia cukup banyak mulai dari bioskop ga jelas, kafe and resto bagi yang berduit, Mushola ada juga, dan pemandangan alam laut indonesia yang Subhanallah banget.

Sekitar pukul 02.30 bahwa kapal sudah mau sampe tujuan. gw mulai  persiapan untuk turun, yang bikin kaget ehh masih di tengah laut. Sebenernya prihatin sih Indonesia pelabuhan atau dermaga aja belum  ada di setiap daerah.

Gugus depan Indonesia

Pulau serasan adalah sebuah kecamatan menjadi batas masuk kab Natuna dimana kapal besar bisa menurunkan penumpang. Pong pong atau sebutan kapal kayu sudah sandar di dermaga, tapi yang gw heran kok pada gelap gulita ya.

“Pak kok disini gelap, lagi mati listrik apa gimana? ” tanya gw ke salah sesama penumpang namun penduduk asli pulau.

“iya bang lagi mati listrik, lagi giliran pemadaman” jawab doi

Alhamdulillah, kirain listrik belum nyampe pulau terpencil, ternyata sekedar pemadaman giliran. Sebelum ke pulau yang gw tuju dengan ruang lingkup sekala desa, kita semua disambut dan di pengarahan oleh Pak Camat setempat.

Ternyata eh ternyata, belum sampe, kirain pulau itu bakal jadi tempat experiment selama dua bulan ke depan, dan masih 2 jam perjalanan lagi menggunakan pompong untuk sampe tempat tujuan.

Datuk Madjenin

kisah orang perbatasan

Datuk Madjenin.

“sesuatu apapun akan berharga ketika sesuatu itu sudah tidak ada, sudah hilang, sudah tidak dekat dengan kita, dan hanya bisa untuk di kenang”

Lima tahun berlalu tidak terasa, cerita di hari kedua bulan Ramadhan 1434 Hijriyah, gw berada di Pulau Panjang batas negara, kalau lu lari cuma butuh waktu 30 menit dari ujung keujung pulau.

Kebiasaan masyarakat desa ketika ada orang baru pasti disambut, dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang rapuh mereka berkumpul. warga menyambut gw dan temen-temen yang datang ke pulau setelah sekian lama di tinggal marinir.

Selama dua bulan kedepan, gw akan tinggal disalahsatu rumah warga penduduk asli pulau ini, namanya datuk madjenin *pict gambar atas*. Umur beliou kira kira 70 tahunan, kondisinya masih sehat meski jalannya sudah tidak tegap.

“Atuk” sebutan gw ke beliou,  doi pake bahasa lokal melayu, dan agak susah pake bahasa indonesia. satu minggu berlalu masih tahap adaptasi, baik bahasa, kondisi iklim, soan sana sini, dan merancang schedul selama 2 bulan ke depan.

Atuk madjenin ini kalau di ceritain ga bakal cukup seharian, meski kami baru kenal, dia sangat humoris, meskipun kadang-kadang ngga ngerti becandaanya, tapi ketawa aja. Beliou tinggal bersama Nanda seorang cicitnya, istrinya udah meninggal beberapa tahun silam.

“Atouk ni asli urang sini, dari zaman lahir”

Merasakan cuma 6 jam pake listrik

kisah gelap diperbatasan

Sumber: Pixabay

” Atouk listriknya mati yah?” tanya gw
“mau apeu, disini listrik nyala lepas jam 6” jawab Atouk

Dari obrolan singkat tersebut, ketika ngobrol sama warga lain bahwa listrik di pulau panjang memang baru nyala sekitas jam 5 sore dan padam lagi jam 10:30 malem. Gila men ternyata selama 64 tahun indonesia merdeka, listrik belum merata.

Hampir 90% warga di pulau merupakan nelayan, dan 10% sinya terdiri dari guru, perangkat desa, pedangang dan petani kopra. Banyak sekelumit kisah dari masyarakat yang gw rasakan dari aktifitas terbatas karena listrik yang terbatas.

Pemanfaat dan pengolahan hasil laut yang tidak dimaksimalkan karena ngga ada listrik dan banyak masalah lainnya.

Sumberdaya

kisah Sumberdaya di batasan

Sumber: Pixabay

Salah satu contoh pemanfaatan hasil laut yang melimpah namun ga bisa dimanfaatkan adalah ikan. Ketika hasil tangkapan nelayan banyak, sehingga suply ikan banyak namun konsumentidak ada.

kondisi tersebut menyebabkan ikan menumpuk dan di diamkan begitu saja. Dampak ini timbul karena pasokan listrik yang terbatas sehingga keterbatasan simtem pengolahan.

Coba bayangkan kalau listrik 24 jam, mungkin nealayan bisa mengawetkan ikan dengan es atau pendingin lainnya. Informasi-informasi luar yang bisa tersampaikan karena hadinya media elektronik bisa tanyang 24 jam.

Ini pengabdianku, mana pengabdianmu?

kisah nelayan di perbatasan

Kapal Nelayan

“We Want You Tobe One Of Us, To Help the Fosherman, adn to Feed The Hungry Word”

Dari 6 anggota kelompok yang ada di pulau ini gw satu-satunya mendapat kesempatan untuk mengabdikan, tukar pendapat, sharing pengalaman dan memberikan wawasan kepada nelayan, karena memang bacground gw dari jurusan perikanan waktu itu.

Nelayan di pulau panjang, merupakan nelayan tradisional mereka menangkap berbagai jenis ikan karang yang nilai ekonomisnya tinggi, namun dedengan cara cara yang kurang baik. Salah satu komoditas unggulannya adalah Ikan Napoleon.

Dengan nelayan pulau gw sharing tentang keselamatan dalam penyelaman, kenapa demikian karena gw melihat fenomena banyaknya warga, yang terkena lumpuh namun umurnya masih sekitar kepala empat. Tetapi yang paling miris ketika gw melihat kenyataan, bahwa nelayan menggunakan cara yang merusak lingkungan.

Tentang pendidikan

kisah pendidikan di perbatasan

Sumber: Pixabay

Ngga melulu tentang nelayan atau seputar ikan yang di kerjakan. Bersama team, gw merasakan betapa butuh perjuangan mereka (orang pulau) dalam meraih pendidikan, terutama anak anak.

Kondisi geografis yang berat, tidak menjadi halangan bagi anak-anak disini untuk menempuh pendidikan. setiap hari mereka menyebrang menggunakan kapal kayu, tidak jarang libur di kala musim badai.

Tidak jarang juga gw mengajar anak anak SD setempat yang murid per kelasnya kurang dari sepuluh orang, mereka sangat gembira ketika diceritakan di kota itu seperti apa, macet itu rasanya gimana. dan masih banyak keseruan.

Farewell

kisah perpisahan di perbatasan

Sumber : Pixabay

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, 2 bulan terlewati, Ramadhan sudah berganti dengan Idul Fitri, perpisahan pun kami kemas dalam perayaan HUT RI.

17 agustus 2013 tepatnya, adalah batas masa pengabdian gw bareng temen-temen di Pulau Panjang akan berakhir. back to reality, yaps gw akan kembali dengan rutinitas seperti biasa, ga tau perasaan apa yang ada dalam pikiran dan hati gw.

sedih karena akan berpisan, senang karena akan bertemu dengan keluarga di rumah, namun bangga akan keindahan indonesia.

Banyak tokoh atau kejadian yang belum dibahas, ngga bakal cukup untuk di tuliskan, terimakasih Napoleon, terimakasih Atuk Madjenin, terimaksih Indonesia, terimakasih Ya Allah karena kehendakmu semua ini terjadi.

AKU BANGGA JADI ANAK INDONESIA

Sekian dan terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply